Symptoms of Swine Flu

Tuesday, September 8, 2009

Badan POM RI Luncurkan Mobil Laboratorium Keliling

08 Sep 2009

Maraknya peredaran makanan/minuman, obat dan kosmetik yang mengandung bahan berbahaya membuat Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) RI meningkatkan pengawasan dan pengamanan barang-barang tersebut yang beredar di masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan POM RI dr. Husniah Rubiana Thamrin Akib, MS, MKes, SpFK saat peluncuran mobil laboratorium keliling pada Senin, 7 September 2009 di kantor Badan POM, Jakarta.

Peluncuran mobil laboratorium keliling ini dilakukan untuk membantu mengurangi hambatan-hambatan seperti jarak yang jauh, kemacetan, dan waktu tempuh saat Badan POM melakukan pemeriksaan atau sampling di berbagai lokasi. Selama ini proses tersebut dilakukan dengan cara pihak Badan POM mendatangi lokasi yang dimaksud, mengambil sampel dan kemudian dikirim ke laboratorium di kantor Badan POM. Dengan adanya mobil laboratorium keliling ini, maka pemeriksaan tersebut dapat dilakukan saat itu juga di lokasi dengan menggunakan peralatan yang tersedia pada laboratorium keliling, ujar dr. Husniah.
Menurut dr. Husniah laboratorium keliling ini dapat difungsikan untuk pengawasan makanan yang mengandung bahan berbahaya, pengawasan kosmetik yang mengandung bahan berbahaya, pengawasan obat palsu, pengawasan produk Tanpa Ijin Edar (TIE), serta pengawasan produk kadaluarsa. Saat ini pengawasan difokuskan pada makanan yang mengandung bahan berbahaya seperti Formalin, Borax, Rhodamin B, Methanyl Yellow, Arsen, Sianida, Residu Pestisida dan pengawasan parsel lebaran dari makanan kadaluarsa serta makanan yang mengandung unsur haram dalam agama Islam.
Laboratorium keliling yang diluncurkan saat ini berjumlah 8 unit, 7 unit akan dioperasikan di wilayah DKI Jakarta dan 1 unit akan dioperasikan di wilayah Serang. Dr. Husniah berharap agar laboratorium keliling ini juga dapat segera direalisasikan di seluruh Indonesia. Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut, serta menemukan hal-hal yang mencurigakan dan perlu disampaikan, agar menghubungi Unit Layanan Pengaduan Konsumen (UPLK) Badan POM RI di nomor telepon 021-4263333, SMS 021-32199000, atau e-mail uplk@pom.go.id

Sunday, September 6, 2009

Penyakit Campak Mengancam


Ratusan Ribu Bayi Tidak Mendapat Vaksinasi

Senin, 7 September 2009 | 03:10 WIB

Jakarta, Kompas - Dibandingkan dengan 10 tahun lalu, cakupan beberapa imunisasi rutin yang wajib diberikan sesuai program pemerintah cenderung menurun. Hal ini mengakibatkan sejumlah penyakit infeksi pada bayi, seperti campak, belum teratasi dan masih mengancam bayi yang tidak diimunisasi.

Sejumlah daerah belum optimal melakukan imunisasi, dengan cakupan kurang dari 90 persen pada tahun 2008. Untuk imunisasi campak di Papua, misalnya, baru tercakup 60,7 persen, Sulawesi Barat 77,6 persen, dan Nusa Tenggara Timur 74,2 persen. Campak merupakan penyakit yang ditandai oleh demam tinggi dan adanya bintik-bintik merah. Penyakit ini di dunia membunuh satu dari 1.000 kasus infeksi.

Tidak tercapainya target imunisasi hingga mencakup semua bayi, di beberapa daerah, antara lain disebabkan pemahaman masyarakat yang masih terbatas bahkan keliru terhadap imunisasi, terutama di perkotaan. Adapun di pedesaan karena minimnya infrastruktur dan rendahnya cara hidup sehat.

”Keberhasilan program imunisasi sangat tergantung dari kesiapan petugas kesehatan, tingkat kesadaran masyarakat, dan alat untuk menjamin efektivitas vaksin,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, Sabtu (5/9) di Jakarta.

Lima imunisasi wajib

Upaya imunisasi di Indonesia telah dilakukan sejak tahun 1970-an pada bayi dan anak. Sesuai program imunisasi pemerintah, ada lima jenis imunisasi yang wajib diberikan kepada bayi usia 0-11 bulan, yaitu polio, BCG, hepatitis B, DPT, dan campak.

Adapun imunisasi yang dianjurkan adalah MMR, Hib, tifoid, hepatitis A, varisela, PPV, dan pneumokokus (IPD).

Beberapa manfaat imunisasi yang wajib diberikan itu antara lain vaksin hepatitis B mencegah infeksi hepatitis B, vaksin BCG untuk menghindari tuberkulosis berat, vaksin DPT untuk mencegah difteri, batuk rejan (pertusis) dan tetanus. Adapun vaksin polio untuk menghindari penyakit polio.

Namun, cakupan imunisasi yang wajib diberikan itu menurun beberapa tahun terakhir dibandingkan dengan 10 tahun lalu. Sebagai contoh, cakupan imunisasi DPT tahun 1997 secara nasional mencapai 100 persen atau lebih, sedangkan tahun 2008 cakupannya turun menjadi 91,6 persen. Dengan sasaran imunisasi pada bayi sekitar 5 juta anak, ini berarti ada sekitar 420.000 bayi tidak mendapat vaksin DPT.

Kondisi ini menyebabkan sejumlah penyakit infeksi pada anak balita belum bisa diatasi hingga tak ada lagi kasus. Sebagai contoh, angka kasus campak tahun 2007 berjumlah 18.488 orang. Polio muncul tahun 2005 setelah tidak ditemukan sejak tahun 1995 meski berhasil dieliminasi setelah imunisasi nasional.

Mencegah infeksi

Imunisasi merupakan hal mendasar untuk diberikan kepada setiap anak. ”Masa depan bangsa ditentukan anak saat ini. Karena itu, salah satu sasaran Millennium Development Goals 2015 adalah menurunkan angka kematian bayi dan anak balita, membasmi berbagai penyakit infeksi,” kata Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Bagriul Hegar.

Sejauh ini, kematian anak di bawah usia satu tahun di Indonesia sangat tinggi. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, angka kematian bayi tahun 2007 adalah 34 per 1.000 kelahiran hidup. ”Angka kematian bayi di Indonesia tertinggi di antara negara ASEAN,” ujar Sri Rezeki S Hadinegoro, Ketua Satuan Tugas Imunisasi IDAI.

Sekitar 75 persen dari kematian bayi di bawah umur 1 tahun karena infeksi saluran napas akut (ISPA), komplikasi perinatal (bayi umur 0-28 hari), dan diare. Karena itu, upaya mengatasi ketiga penyebab utama kesakitan dan kematian itu harus diutamakan. Banyak penyakit terkait ISPA bisa dicegah dengan imunisasi, antara lain campak, pertusis, Hib, dan pneumokokus.

Imunisasi juga mencegah penyakit di masa depan. Sebagai contoh, hepatitis B pada bayi bisa mencegah kanker hati pada usia produktif. Karena 90 persen bayi yang dilahirkan ibu dengan infeksi hepatitis B akan terinfeksi virus itu, 95 persen di antaranya berkembang menjadi kronik dan kanker hati.

”Pemberian vaksin dapat melindungi anak dari serangan berbagai penyakit infeksi yang bisa menyebabkan kematian dan kecacatan. Imunisasi merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit,” kata Sri Rezeki.

Keuntungan vaksin dapat dirasakan secara individu, sosial, dan menunjang sistem kesehatan nasional. Jika seorang anak telah mendapat vaksinasi, 80-95 persen akan terhindar dari penyakit itu. Hal ini memutus rantai penularan penyakit dari anak ke anak lain atau orang dewasa yang hidup bersama, menurunkan biaya pengobatan dan perawatan di rumah sakit, mencegah kematian dan kecacatan seumur hidup.

Terus dilakukan

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan, pemerintah terus melakukan kegiatan vaksinasi. ”Itu terus berlanjut di seluruh Indonesia,” katanya.

Mengenai adanya kelompok dalam masyarakat yang menolak imunisasi, Menkes menyatakan, penolakan memang pernah terjadi, tetapi sekarang ini sudah jauh berkurang. ”Saya lakukan pendekatan kepada mereka selama dua tahun,” kata Menkes.

Menkes menyatakan, empat vaksin wajib seperti polio, DPT, campak, dan BCG adalah produksi dalam negeri. Karena itu, saat melakukan pendekatan kepada kelompok-kelompok yang menolak vaksin tersebut, ia menjelaskan bahwa keempat vaksin diproduksi oleh Bio Farma. Bio Farma sudah mengekspor vaksin produksinya dan sudah menguasai 35 persen pasar dunia.

Tjandra Yoga menyatakan, cakupan imunisasi tidak menurun, tetapi berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada hepatitis B, penurunan cakupan imunisasi tahun 2007 terjadi karena perubahan kebijakan, yaitu menggabungkan DPT dan hepatitis B apabila bayi sudah berusia di atas tujuh hari.

Keberhasilan imunisasi rutin bergantung pada petugas kesehatan, kesadaran masyarakat, dan alat penyimpan vaksin. Sejak desentralisasi sektor kesehatan, dana operasional imunisasi dilimpahkan ke daerah, pemerintah pusat bertanggung jawab atas pengadaan dan distribusi logistik vaksin ke semua provinsi.

Dalam menjalankan program imunisasi rutin, kendala yang dihadapi adalah banyak posyandu yang tidak aktif lagi di banyak daerah. Karena itu, revitalisasi posyandu mulai dilakukan agar bayi terpantau kesehatannya dan mendapat imunisasi lengkap. (EVY/LOK)

Sumber : Kompas Cetak

Friday, July 31, 2009

4.440 kasus chikungunya di Sumut


Warta - Warta Fokus
PRAWIRA SETIABUDI
WASPADA ONLINE

MEDAN – Dari data dinas kesehatan Sumatera Utara (Sumut), hingga Juni 2009, sekitar 4.440 kasus demam cikungunya terjadi Sumut.

“Kemungkinan jumlah tersebut akan bertambah, melihat banyaknya kasus chikungunya di daerah Belawan” tutur seksi data dinas kesehatan Sumut, Teguh Supriyadi, kepada Waspada Online, tadi sore.

Dari jumlah tersebut, kata Teguh, yang paling besar penderitanya adalah kabupaten Asahan sebanyak 1947 kasus, disusul Labuhan Batu Utara (Labura) 591 kasus, Serdang Bedagai 461 kasus, Tapsel 377 penderita.

Selanjutnya, Langkat 334 penderita, Batu Bara 123, Labuhan Batu Selatan (Labusel) 179, Deli Serdang 123, dan Medan sendiri saat ini masih sekitar 5 penderita.

“Rata-rata usia penderita, usia 1-4 tahun 3,05%, 5-9 tahun 6,23 persen, 10-14 tahun 6,48 %,15-19 tahun 7,16 % , 20-44 tahun 47,5%, 45-54 tahun 5%, 55-59 tahun 4,87%, 60-69 tahun 5% dan 70 tahun 2%,” paparnya.

Untuk pencegahan dan pengobatan, ujar Teguh, dinas kesehatan Sumut sudah melakukan berbagai program penanggulangan.

Diantaranya, melakukan pengasapan kedaerah endemik, penempatan posko-posko kesehatan di setiap kabupaten, dan sudah melakukan kordinasi dengan puskesmas yang ada diseluruh daerah di Sumut.
(dat04/wol-mdn)

Thursday, July 30, 2009

Pertambahan Kasus-Kasus Positif Influenza H1N1 Indonesia

30 Jul 2009 : Tambahan Kasus Positif Influenza H1N1 Sebanyak 35 Kasus

Influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat. Sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO (11/06/2009), di seluruh dunia sampai 27 Juli 2009 tercatat 134.503 orang positif terkena influenza A H1N1.
selengkapnya...

29 Jul 2009 : Dua Puluh Delapan Kasus Baru Influenza A H1N1

Hari ini (29/07/09) kasus baru positif influenza A H1N1 tambah 28 orang (15 laki-laki dan 13 perempuan). Tambahan kasus berasal dari 7 provinsi yaitu DKI Jakarta (13 kasus), Jawa Timur (5 Kasus), Jogjakarta (3 kasus), Jawa Barat (3 Kasus), Banten (2 Kasus), Bali (1 Kasus) dan Sulawesi Utara (1 Kasus). Semua kasus adalah warga Negara Indonesia. 4 Kasus memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri (3 Kasus ke Singapura dan 1 Kasus ke Thailand).
selengkapnya...

27 Jul 2009 : Tambahan 16 Kasus Baru Influenza A H1N1

Hari ini (27/07/09) pukul 19.00 WIB terdapat tambahan kasus baru influenza A H1N1 sebanyak 16 kasus (8 laki-laki dan 8 perempuan). Mereka berasal dari DKI Jakarta (13 kasus) dan Banten (3 kasus). Semua kasus adalah Warga Negara Indonesia. 1 Kasus diantaranya memiliki riwayat perjalanan ke Hongkong.
selengkapnya...

27 Jul 2009 : Tambahan 38 Kasus Influenza A H1N1

Hari ini (27/07/09) kasus positif influenza A H1N1 tambah 38 kasus (25 laki-laki dan 13 perempuan). Mereka berasal dari 9 provinsi yaitu Bali (2 kasus), Banten (9 Kasus), DKI Jakarta (5 kasus), Jabar (2 kasus), Jatim (6 kasus), Kalimantan Selatan (6 Kasus), Kalimantan Timur (2 Kasus), Kepulauan Riau (1 Kasus), Jambi (1 Kasus) dan 4 Kasus WNA dilaporkan dari Sulawesi Utara, Bali dan Surabaya. Kasus terdiri dari 34 WNI dan 4 WNA. Yang memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri sebanyak 6 orang yaitu China, Jepang, Korea, Malaysia, Singapura dan Taiwan.
selengkapnya...

27 Jul 2009 : Meningkatkan Kesiagaan Puskesmas Dalam Penanganan Virus Influenza Baru A-H1N1

Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan Indonesia melalui surat Nomor YM.03.02/BI.4/2371/09 tanggal 22 Juli 2009, mengharapkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota, dan Kepala UPT Kesmas di seluruh Indonesia untuk meningkatkan kesiapsiagaan terkait dengan Penanganan Virus Influenza Baru A-H1N1.
selengkapnya...

26 Jul 2009 : Kasus Positif Influenza A H1N1 Tambah 19 Kasus

Hari Sabtu (25/07/09) kasus positif influenza A H1N1 tambah 19 kasus (11 laki-laki dan 8 perempuan). Mereka berasal dari 6 provinsi yaitu DKI Jakarta (3 kasus), Jabar (6 kasus), Jateng (3 kasus) Jatim (3 kasus), Sulawesi Selatan (2 kasus) dan 2 kasus WNA dilaporkan dari Bali. Dari total kasus tersebut terdiri dari 17 WNI dan 2 WNA. Yang memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri sebanyak 6 orang yaitu ke Arab Saudi, Australia, Belanda, Jepang, Maroko dan Singapura.
selengkapnya...

24 Jul 2009 : Kasus Baru Positif Influenza A H1N1 Tambah 21 Orang, Satu Meninggal

Hari ini (24/07/09) kasus positif influenza A H1N1 21 kasus (17 laki-laki dan 4 perempuan). Mereka berasal dari 4 provinsi yaitu DKI Jakarta (8 kasus), Jabar (2 kasus), Jatim, (6 kasus) dan Kalimantan Selatan (5 Kasus). Semua kasus adalah Warga Negara Indonesia. Yang memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri sebanyak 3 orang yaitu Malaysia dan Singapura.
selengkapnya...

23 Jul 2009 : Tambahan Kasus Positif Influenza A H1N1

Hari ini (23/07/09) tambahan kasus positif influenza A H1N1 83 kasus (44 laki-laki dan 39 perempuan). Mereka berasal dari 7 provinsi yaitu DKI Jakarta (17 kasus), Jabar (14 kasus), Banten (45 kasus), Jatim, (4 kasus), dan masing-masing 1 kasus dari Kepri, DIY, dan Bali. Dari jumlah itu 4 diantaranya adalah WNA dan 79 WNI. Yang memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri sebanyak 9 orang yaitu Thailand, Australia, Qatar, Singapura, Malaysia, Jepang, dan Hongkong.
selengkapnya...

22 Jul 2009 : Masyarakat Diminta Tetap Waspada Hadapi Pandemi Influenza A H1N1

Masyarakat diminta tetap waspada hadapi pandemi Influenza A H1N1. Berperilaku hidup bersih dan sehat (PBHS) mempunyai andil besar untuk ikut mencegah penularan influenza A H1N1. Perilaku tersebut diantaranya mencuci tangan dengan sabun atau antiseptik, dan melaksanakan etika batuk dan bersin yang benar. Apabila ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor, ke sekolah atau ke tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter.
selengkapnya...

Saturday, July 25, 2009

Bocah Perempuan 6 Tahun di Jakarta Meninggal Karena Flu Babi

Jakarta - Seorang bocah perempuan berusia 6 tahun di Jakarta meninggal karena flu babi. Bocah tersebut meninggal pada 22 Juli setelah dirawat sejak 19 Juli lalu.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan dan pengobatan, gambaran rontgen dan laboratorium, maka pasien ini menderita pneumonia berat dan hasil pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) menunjukkan positif Influenza A H1N1," ujar Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan (Depkes) Tjandra Yoga Aditama dalam situs resmi Depkes, Jumat (24/7/2009).

Sebelumnya bocah itu dirujuk oleh salah satu RS swasta di Jakarta ke salah satu RS pemerintah di Jakarta pada 19 Juli. Keluhannya adalah demam, batuk, sesak nafas, dan badan lemah. Dalam perawatan, kondisi bocah itu makin memburuk sehingga akhirnya meninggal 22 Juli pukul 21.00 WIB.

"Anak ini sejak beberapa tahun yang lalu mengalami gangguan kesehatan dan delayed development," terang Tjandra.

Sejauh ini flu babi telah menjangkiti 343 orang di Indonesia, terdiri dari 193 laki-laki dan 150 perempuan. Untuk Jumat (24/7/2009) saja, flu babi menjangkiti 21 korban baru di Indonesia (17 laki-laki dan 4 perempuan). Mereka berasal dari 4 provinsi, yaitu DKI Jakarta (8 kasus), Jabar (2 kasus), Jatim, (6 kasus) dan Kalimantan Selatan (5 Kasus).

"Semua kasus adalah Warga Negara Indonesia (WNI). Yang memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri sebanyak 3 orang, yaitu ke Malaysia dan Singapura," imbuh Tjandra.
(sho/sho)

Tuesday, July 21, 2009

Pandemi Flu Babi : Mesir Ingatkan Kaum Lanjut Usia Tidak Naik Haji Tahun Ini


Kairo - Pemerintah Mesir mengingatkan kaum muslim berusia lanjut untuk tidak melakukan umroh ataupun haji tahun ini.

Peringatan ini dikeluarkan menyusul kematian seorang wanita Mesir akibat virus flu H1N1 (flu babi) usai melakukan umroh ke Arab Saudi. Wanita berumur 25 tahun itu menjadi korban tewas pertama di Mesir akibat virus flu babi.

Kementerian Kesehatan Mesir kini mengingatkan, kaum lanjut usia, wanita hamil, anak-anak dan mereka yang menderita penyakit kronis untuk tidak melakukan umroh dan haji. Demikian seperti diberitakan kantor berita resmi Mesir, Mena dan dilansir AFP , Rabu (22/7/2009).

Musim haji tahunan akan berlangsung pada November 2009 mendatang. Selama musim haji itu, lebih dari 2 juta jamaah haji diperkirakan akan memenuhi kota suci Mekkah dan Medinah di Arab Saudi.

Warga Mesir pun diimbau untuk menunda kepergian mereka ke tanah suci. Tujuannya untuk menghindari risiko tertular flu babi.

Bulan lalu pemerintah Arab Saudi juga mengingatkan kaum lanjut usia dan wanita hamil untuk tidak melakukan umroh dan haji. Pemerintah Oman mengeluarkan peringatan serupa pada 6 Juli lalu.

Sebelumnya, pemerintah Tunisia telah menunda semua keberangkatan umroh. Namun negeri itu masih mempertimbangkan apakah akan mengirimkan jamaahnya untuk naik haji pada November mendatang.
Rita Uli Hutapea - detikNews

(ita/iy)

Wednesday, July 15, 2009

Kantong Kresek Hitam Berbahaya



(istimewa)

INILAH.COM, Jakarta - Kemasan plastik berbahan polietilen (PE) dan polipropilen (PP) paling aman digunakan untuk makanan jika dibandingkan jenis kemasan plastik yang lain.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Husniah Rubiana Thamrin Akib mengatakan, "Dari seluruh jenis kemasan makanan plastik, PE dan PP paling banyak digunakan dan paling aman," kata Rubiana di Jakarta, Selasa, [14/7].

Ia menjelaskan, plastik PE terbuat dari monomer etilen sedang plastik PP dari monomer propilen. Sifat kedua bahan ini sangat mirip.

Sementara kemasan plastik lain seperti kemasan plastik 'kresek' berwarna dan kemasan plastik berbahan polivinil klorida (PVC), kata dia, dalam keadaan tertentu cenderung kurang aman untuk mewadahi makanan.

Ia menjelaskan, kemasan plastik kresek, terutama yang berwarna hitam, dibuat melalui proses daur ulang dengan penambahan bahan kimia tertentu, riwayat penggunaannya tidak jelas, dan kurang terjamin kebersihannya.

Sedangkan PVC dibuat dari monomer vinil klorida.

"Monomer vinil klorida yang tidak ikut bereaksi dapat terlepas ke dalam makanan, terutama yang berminyak/berlemak atau mengandung alkohol," katanya.

Pembuatan plastik PVC, kata dia, kadang menggunakan penstabil berupa Timbal (Pb), kadmium (Cd), dan timah putih (Sn) untuk mencegah kerusakan serta senyawa ester ptalat dan ester adipat untuk melenturkan.

Bahan-bahan tambahan itu, dalam keadaan tertentu bisa terlepas ketika kemasan plastik PVC digunakan untuk mewadahi makanan sehingga berisiko membahayakan kesehatan.

"Pb merupakan racun bagi ginjal, Cd racun bagi ginjal dan memicu kanker, senyawa ester ptalat dapat mengganggu sistem endokrin," kata Rubiana.

Direktur Bidang Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya BPOM Roland Hutapea mengatakan, pihaknya melakukan pengujian terhadap 11 sampel kemasan plastik berbahan PVC dan menemukan satu diantaranya tidak memenuhi syarat karena residu timbalnya melebihi ambang batas.

"Satu jenis tutup kue tart plastik transparan berbentuk silinder dilengkapi alas warna hitam berbentuk lingkaran dengan diameter 28 sentimeter kandungan timbalnya 8,69 bagian per juta, harusnya maksimal satu bagian per juta," kata Roland.

Oleh karena itu, masyarakat sebaiknya memperhatikan label di bagian belakang kemasan plastik untuk memastikan keamanan kemasan plastik yang digunakan.

Kemasan plastik berbahan polietilen tereftalat (PET) berlabel angka 01 dalam segitiga, High Density Polyethylene (HDPE) berlabel angka 02 dalam segitiga, PVC berlabel angka 03 dalam segitiga.

Kemudian, Low Density Polyethylene (LDPE) berlabel angka 04 dalam segitiga, PP berlabel angka 05 dalam segitiga dan polistiren berlabel angka 06 dalam segitiga. [*/L1]

Pencapaian Program 2007 Seksi Karantina & SE KKP Kelas II Medan

Menkes di Embarkasi MES

Menkes di Embarkasi MES

Menkes, Wakil Kadiskes SUMUT & Kepala KKP Medan

Menkes, Wakil Kadiskes SUMUT & Kepala KKP Medan

Dirjen di Embarkasi MES

Dirjen di Embarkasi MES

Peserta ATLS dari KKP se-Indonesia

Peserta ATLS dari KKP se-Indonesia